Cara Menentukan Ukuran Gearbox Berdasarkan Torsi dan Beban Mesin

Memahami cara menentukan ukuran gearbox merupakan langkah penting sebelum memasang gear reducer pada mesin industri. Ukuran gearbox tidak cukup ditentukan hanya dari daya motor atau diameter poros. Engineer perlu melihat kebutuhan torsi, RPM output, karakteristik beban, durasi operasi, service factor, hingga kondisi kerja mesin. Jika gearbox yang dipilih terlalu kecil, unit dapat bekerja terlalu berat dan berisiko mengalami overheating, keausan, bahkan kerusakan. Sebaliknya, gearbox yang terlalu besar bisa membuat biaya investasi dan dimensi instalasi menjadi tidak efisien.

Dalam praktiknya, pemilihan ukuran gearbox sebaiknya dimulai dari kebutuhan aktual pada sisi output. Artinya, tentukan terlebih dahulu berapa torsi yang dibutuhkan mesin, berapa kecepatan output yang diinginkan, dan seperti apa karakteristik bebannya. Setelah itu, hasil perhitungan dibandingkan dengan kapasitas gearbox yang tersedia pada katalog manufacturer.

Pendekatan ini sangat penting untuk aplikasi seperti conveyor, mixer, agitator, crusher, bucket elevator, packaging machine, dan berbagai mesin produksi lainnya. Masing-masing aplikasi mempunyai karakter beban yang berbeda sehingga ukuran gearbox yang cocok untuk satu mesin belum tentu tepat untuk mesin lainnya.

cara menentukan ukuran gearbox

Cara Menentukan Ukuran Gearbox dari Kebutuhan Torsi

Langkah pertama dalam cara menentukan ukuran gearbox adalah mengetahui kebutuhan torsi pada poros output. Torsi menunjukkan kemampuan puntir yang diperlukan untuk menggerakkan beban. Semakin berat beban yang harus digerakkan, semakin besar torsi yang dibutuhkan.

Untuk estimasi awal, torsi output dapat dihitung berdasarkan daya dan putaran output dengan rumus:

Torsi (Nm) = (9550 × Daya Motor (kW)) ÷ RPM Output

Misalnya sebuah aplikasi menggunakan motor 5,5 kW dan membutuhkan putaran output sebesar 60 RPM. Estimasi torsinya adalah:

Torsi = (9550 × 5,5) ÷ 60 = sekitar 876 Nm

Nilai tersebut menjadi titik awal dalam menentukan kapasitas gearbox. Namun, angka 876 Nm tidak berarti kita harus memilih gearbox dengan rating persis 876 Nm. Dalam aplikasi industri, kondisi beban aktual perlu dipertimbangkan, termasuk adanya starting load, shock load, perubahan beban, dan durasi operasi.

Untuk pembahasan yang lebih khusus mengenai dasar perhitungan tersebut, Anda dapat membaca artikel cara menghitung torsi gearbox. Setelah kebutuhan torsi diperoleh, tahap berikutnya adalah memilih gearbox yang mempunyai kapasitas sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Jangan Menentukan Ukuran Gearbox Hanya dari Daya Motor

Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah memilih gearbox hanya berdasarkan kW motor. Misalnya, motor 5,5 kW dianggap otomatis membutuhkan satu ukuran gearbox tertentu. Padahal, motor dengan daya sama dapat digunakan pada aplikasi yang mempunyai kebutuhan torsi, RPM, dan karakteristik beban yang berbeda.

Motor 5,5 kW yang digunakan untuk conveyor dengan beban relatif stabil tidak selalu memiliki kebutuhan gearbox yang sama dengan motor 5,5 kW pada crusher yang menerima beban kejut. Pada crusher, misalnya, gearbox harus menghadapi karakter beban yang lebih berat sehingga faktor aplikasi menjadi sangat penting.

Karena itu, daya motor sebaiknya dipandang sebagai salah satu parameter, bukan satu-satunya parameter. Ukuran gearbox harus ditentukan dengan mempertimbangkan hubungan antara daya, RPM, torsi, rasio reduksi, dan karakteristik beban.

Hitung RPM Output Sebelum Memilih Ukuran Gearbox

Setelah mengetahui kebutuhan daya dan torsi, tentukan RPM output yang dibutuhkan mesin. RPM output sangat berpengaruh terhadap torsi yang dihasilkan gearbox. Dengan daya yang sama, semakin rendah RPM output, semakin besar torsi yang dapat diperoleh secara teoritis.

Contohnya, sebuah motor memiliki daya yang sama tetapi digunakan pada dua aplikasi berbeda. Aplikasi pertama membutuhkan output 100 RPM, sedangkan aplikasi kedua hanya membutuhkan 40 RPM. Kebutuhan torsinya akan berbeda karena hubungan antara daya dan RPM berubah.

RPM output juga membantu menentukan gear ratio yang diperlukan. Secara sederhana, jika motor berputar pada 1.450 RPM dan mesin membutuhkan output sekitar 50 RPM, maka diperlukan rasio reduksi sekitar:

Gear Ratio = RPM Input ÷ RPM Output

Gear Ratio = 1.450 ÷ 50 = 29:1

Nilai tersebut menjadi dasar untuk mencari gearbox dengan rasio yang tersedia pada katalog. Namun, rasio bukan satu-satunya pertimbangan. Setelah rasio diketahui, kapasitas torsi gearbox tetap harus diperiksa agar unit mampu menangani beban aktual.

Jika ingin memperdalam pembahasan rasio reduksi, Anda dapat membaca artikel cara menentukan gear ratio gearbox sesuai kebutuhan mesin. Artikel tersebut dapat menjadi referensi lanjutan sebelum menentukan frame size gearbox.

Perhatikan Jenis dan Karakteristik Beban Mesin

Menentukan ukuran gearbox tidak berhenti setelah mendapatkan angka torsi. Karakteristik beban merupakan salah satu faktor paling penting karena beban aktual mesin tidak selalu bersifat konstan.

Secara umum, aplikasi dapat mempunyai beban relatif konstan, beban berubah-ubah, atau beban dengan shock load. Perbedaan tersebut memengaruhi kebutuhan kapasitas gearbox. Mesin yang bekerja secara halus dan stabil memiliki kondisi operasi yang berbeda dengan mesin yang sering mengalami starting berat atau menerima beban kejut.

Contohnya, conveyor yang membawa material secara stabil dapat memiliki pola beban yang relatif mudah diprediksi. Sementara itu, crusher dapat mengalami perubahan beban yang signifikan ketika material masuk ke ruang penghancuran. Kondisi seperti ini harus diperhitungkan ketika memilih gearbox.

Beban Konstan

Beban konstan relatif mudah dianalisis karena kebutuhan torsi tidak mengalami perubahan ekstrem selama operasi. Meski begitu, durasi operasi tetap perlu diperhatikan. Gearbox yang bekerja selama beberapa jam per hari memiliki duty yang berbeda dibandingkan unit yang bekerja 24 jam sehari.

Continuous operation membuat gearbox terus menghasilkan panas dan menerima beban pada gear, shaft, serta bearing. Karena itu, pemilihan ukuran tidak hanya berdasarkan torsi sesaat, tetapi juga kemampuan gearbox bekerja secara kontinu.

Beban Berubah-ubah

Pada mesin dengan beban yang berubah-ubah, kebutuhan torsi dapat meningkat atau menurun selama satu siklus operasi. Kondisi ini umum ditemukan pada berbagai mesin produksi dan material handling.

Dalam kasus seperti ini, engineer perlu memahami operating cycle. Kapan beban maksimum terjadi? Berapa lama beban maksimum berlangsung? Seberapa sering mesin melakukan starting dan stopping? Pertanyaan tersebut membantu menentukan kebutuhan kapasitas gearbox secara lebih realistis.

Shock Load

Shock load perlu mendapat perhatian khusus karena beban sesaat dapat jauh lebih tinggi daripada beban normal. Jika gearbox dipilih terlalu dekat dengan kebutuhan nominal tanpa mempertimbangkan karakter beban, margin kemampuan unit dapat menjadi terlalu kecil.

Inilah alasan mengapa service factor digunakan dalam pemilihan gearbox. Service factor membantu memberikan margin terhadap kondisi operasi yang tidak sepenuhnya ideal, sesuai metode pemilihan yang digunakan manufacturer.

Gunakan Service Factor Saat Menentukan Ukuran Gearbox

Service factor merupakan salah satu parameter penting dalam cara menentukan ukuran gearbox. Secara sederhana, service factor digunakan untuk memperhitungkan kondisi aplikasi yang dapat membuat gearbox menerima beban lebih berat daripada kondisi nominal.

Misalnya kebutuhan torsi hasil perhitungan adalah 876 Nm. Jika aplikasi membutuhkan pertimbangan service factor tertentu, maka kapasitas desain yang digunakan untuk pemilihan gearbox akan lebih tinggi daripada 876 Nm.

Secara konseptual, pendekatannya dapat dituliskan sebagai:

Torsi desain = Torsi kebutuhan × Service Factor

Namun, nilai service factor tidak sebaiknya ditentukan secara asal. Pemilihannya harus mempertimbangkan jenis mesin, operating hours, frekuensi starting, karakteristik beban, dan rekomendasi manufacturer. Setiap katalog gearbox dapat menggunakan metode rating dan faktor aplikasi yang berbeda.

Karena service factor sudah menjadi topik khusus dalam kumpulan artikel Gearbox Electro, Anda juga dapat melihat pembahasan cara menentukan service factor gearbox untuk aplikasi industri sebagai referensi sebelum menentukan ukuran gearbox.

Bandingkan Torsi Kebutuhan dengan Rating Gearbox

Setelah memperoleh kebutuhan torsi dan mempertimbangkan karakteristik beban, langkah berikutnya adalah melihat rating gearbox pada katalog manufacturer. Di sinilah ukuran atau frame size gearbox mulai dapat ditentukan.

Misalnya hasil evaluasi menunjukkan kebutuhan torsi desain berada di sekitar 1.100 Nm. Engineer kemudian mencari beberapa pilihan gearbox yang mempunyai output torque rating yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Jangan langsung memilih unit paling kecil yang angka rating-nya hanya sedikit di atas kebutuhan tanpa mempertimbangkan kondisi aplikasi lainnya.

Selain torque rating, periksa juga output RPM, input speed, allowable radial load, allowable axial load, mounting arrangement, shaft diameter, posisi pemasangan, dan faktor termal jika relevan.

Dengan demikian, ukuran gearbox bukan sekadar angka pada body gearbox. Ukuran yang tepat adalah ukuran yang memenuhi kebutuhan performa dan kondisi mekanis aplikasi secara keseluruhan.

Contoh Cara Menentukan Ukuran Gearbox Berdasarkan Data Mesin

Agar proses sizing lebih mudah dipahami, kita bisa menggunakan contoh sederhana. Misalnya sebuah conveyor menggunakan motor listrik 7,5 kW dengan putaran motor 1.450 RPM. Mesin membutuhkan putaran output sekitar 50 RPM dan bekerja selama 16 jam per hari dengan beban yang relatif berat.

Langkah pertama adalah menentukan gear ratio yang dibutuhkan:

Gear Ratio = RPM Input ÷ RPM Output

Gear Ratio = 1.450 ÷ 50 = 29:1

Artinya, gearbox membutuhkan rasio reduksi sekitar 29:1. Selanjutnya, kebutuhan torsi output dapat diestimasi dari daya dan RPM output:

Torsi = (9550 × 7,5) ÷ 50

Hasilnya sekitar 1.432 Nm. Angka ini belum otomatis menjadi ukuran gearbox yang harus dipilih. Karena conveyor bekerja dalam kondisi beban berat dan selama 16 jam per hari, faktor aplikasi perlu diperhitungkan.

Misalnya hasil evaluasi aplikasi menunjukkan kebutuhan service factor 1,5. Maka kebutuhan torsi desain secara sederhana menjadi sekitar:

1.432 × 1,5 = 2.148 Nm

Dengan angka tersebut, engineer kemudian mencari gearbox yang memiliki kapasitas output torque yang sesuai atau lebih tinggi dari kebutuhan desain, sekaligus memeriksa parameter lainnya. Contoh ini menunjukkan bahwa cara menentukan ukuran gearbox tidak cukup dengan melihat daya motor saja. Torsi, rasio, beban, operating hours, dan service factor harus dilihat secara bersama-sama.

Jangan Memilih Gearbox yang Kapasitasnya Terlalu Pas

Dalam proses pemilihan, sebaiknya jangan langsung mengambil gearbox dengan rating yang hanya sedikit lebih tinggi dari kebutuhan tanpa mengevaluasi kondisi aplikasinya. Gearbox harus mempunyai kapasitas yang sesuai dengan metode rating manufacturer dan kondisi operasi mesin.

Margin yang tepat bukan berarti memilih gearbox sebesar mungkin. Unit yang terlalu besar dapat meningkatkan biaya, berat, dimensi, dan kebutuhan ruang instalasi. Tujuannya adalah menemukan ukuran yang memberikan kapasitas cukup dengan konfigurasi yang tetap efisien.

Parameter Katalog yang Wajib Diperiksa

Setelah kebutuhan torsi dan rasio diketahui, jangan langsung melakukan pemesanan gearbox. Katalog manufacturer perlu diperiksa secara menyeluruh karena satu frame size dapat mempunyai beberapa konfigurasi dengan rating yang berbeda.

Beberapa parameter penting yang perlu diperiksa antara lain:

  • Output torque untuk memastikan kapasitas torsi mencukupi.
  • Output speed untuk memastikan RPM sesuai dengan kebutuhan mesin.
  • Gear ratio untuk memastikan tingkat reduksi sesuai.
  • Input speed untuk memastikan gearbox sesuai dengan putaran motor.
  • Motor power sebagai salah satu parameter pemilihan.
  • Service factor untuk menyesuaikan gearbox dengan kondisi aplikasi.
  • Output shaft diameter agar sesuai dengan sistem mekanis mesin.
  • Radial dan axial load apabila gearbox menerima beban eksternal dari pulley, sprocket, atau komponen transmisi lainnya.
  • Mounting position untuk memastikan gearbox dapat dipasang sesuai konfigurasi mesin.
  • Thermal capacity apabila gearbox bekerja pada duty atau kondisi lingkungan yang berat.

Parameter tersebut penting karena gearbox dengan torsi yang cukup belum tentu cocok secara mekanis. Misalnya, output torque sudah memenuhi kebutuhan, tetapi diameter shaft atau allowable radial load tidak sesuai dengan sistem transmisi mesin. Dalam kondisi seperti itu, pemilihan tetap perlu dievaluasi.

Perhatikan Output Shaft dan Beban Eksternal

Pada beberapa aplikasi, gearbox tidak hanya menerima torsi dari beban tetapi juga mendapatkan gaya radial atau axial dari komponen yang terhubung pada output shaft. Pulley, sprocket, chain, belt, dan elemen transmisi lainnya dapat memberikan beban tambahan pada shaft dan bearing gearbox.

Karena itu, engineer perlu memeriksa bagaimana beban diteruskan ke gearbox. Jangan hanya menghitung kebutuhan torsi kemudian mengabaikan gaya eksternal tersebut.

Hal ini menjadi semakin penting pada aplikasi conveyor atau mesin yang menggunakan sprocket dan pulley. Konfigurasi pemasangan dapat memengaruhi umur bearing serta kemampuan gearbox dalam menerima beban.

Hubungan Ukuran Gearbox dengan Jenis Aplikasi

Ukuran gearbox yang sesuai sangat bergantung pada jenis mesin. Conveyor, agitator, crusher, bucket elevator, mixer, dan mesin packaging dapat mempunyai kebutuhan yang berbeda meskipun menggunakan motor dengan daya yang sama.

Pada conveyor dengan beban stabil, fokus utama dapat berada pada kebutuhan torsi, durasi operasi, dan kondisi starting. Pada agitator, karakteristik fluida dan perubahan beban selama proses pencampuran perlu diperhatikan. Sementara itu, crusher memiliki potensi shock load yang membuat evaluasi kapasitas menjadi lebih kritis.

Karena itu, proses cara menentukan ukuran gearbox sebaiknya selalu dimulai dari aplikasi, bukan dari pertanyaan “motor berapa kW?” saja.

Aplikasi Hal yang Perlu Diperhatikan
Conveyor Beban, starting, jam operasi, pulley atau sprocket
Agitator Karakteristik material atau fluida, torsi awal, continuous duty
Crusher Shock load, peak torque, service factor
Bucket Elevator Beban material, starting load, jam operasi
Mixer Viscosity material, starting torque, perubahan beban
Packaging Machine Kecepatan, precision, duty cycle, frekuensi start-stop

Kesalahan Umum Saat Menentukan Ukuran Gearbox

Ada beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi ketika memilih gearbox untuk mesin industri. Kesalahan pertama adalah menentukan ukuran hanya berdasarkan daya motor. Seperti yang sudah dijelaskan, motor 5,5 kW atau 7,5 kW tidak otomatis menentukan satu ukuran gearbox tertentu.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan RPM output. Gearbox bukan hanya berfungsi meningkatkan torsi, tetapi juga menghasilkan kecepatan output tertentu. Jika rasio yang dipilih tidak sesuai, RPM mesin dapat terlalu tinggi atau terlalu rendah dari kebutuhan proses.

Kesalahan ketiga adalah tidak mempertimbangkan service factor. Gearbox yang bekerja 24 jam sehari dengan beban berat tentu membutuhkan evaluasi berbeda dari gearbox yang hanya digunakan beberapa jam dengan beban ringan.

Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan kondisi starting. Pada beberapa mesin, torsi yang diperlukan saat start dapat lebih tinggi daripada kondisi steady-state. Jika kondisi tersebut tidak diperhitungkan, gearbox dapat mengalami beban berat pada setiap siklus starting.

Kesalahan lainnya adalah hanya melihat gearbox sebagai satu unit tanpa mempertimbangkan sistem yang terhubung dengannya. Motor, coupling, shaft, pulley, sprocket, mounting, dan driven machine merupakan bagian dari sistem transmisi. Pemilihan gearbox harus mempertimbangkan hubungan antar-komponen tersebut.

Checklist Cara Menentukan Ukuran Gearbox

Sebelum menentukan model atau frame size gearbox, gunakan checklist berikut agar data yang dikumpulkan lebih lengkap:

  1. Tentukan daya motor dalam kW.
  2. Catat RPM motor atau input speed.
  3. Tentukan RPM output yang dibutuhkan mesin.
  4. Hitung atau tentukan gear ratio.
  5. Hitung kebutuhan torsi output.
  6. Identifikasi karakteristik beban.
  7. Tentukan operating hours per hari.
  8. Evaluasi frekuensi starting dan stopping.
  9. Perhitungkan shock load jika terdapat beban kejut.
  10. Tentukan service factor sesuai aplikasi dan rekomendasi manufacturer.
  11. Periksa output torque rating gearbox.
  12. Periksa output shaft dan allowable radial/axial load.
  13. Periksa mounting position dan konfigurasi instalasi.
  14. Periksa thermal capacity apabila dibutuhkan.
  15. Pastikan gearbox kompatibel dengan motor dan sistem mekanis mesin.

Dengan checklist tersebut, proses pemilihan menjadi lebih terstruktur. Data yang lengkap juga memudahkan supplier atau engineer gearbox memberikan rekomendasi yang lebih tepat karena pemilihan tidak hanya berdasarkan satu parameter.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Bantuan Engineer Gearbox?

Untuk aplikasi sederhana dengan beban yang mudah diprediksi, proses sizing dapat dilakukan berdasarkan data dasar motor, RPM, torsi, dan katalog. Namun, untuk aplikasi dengan beban berat atau kondisi operasi kompleks, konsultasi dengan engineer gearbox sangat disarankan.

Hal ini terutama berlaku jika mesin mempunyai shock load, frequent start-stop, high radial load, ruang instalasi terbatas, duty 24 jam, atau kebutuhan output torque yang tinggi. Kesalahan pemilihan pada kondisi seperti ini dapat berdampak pada umur gearbox dan reliability mesin.

Engineer juga dapat membantu mengevaluasi apakah konfigurasi yang dipilih sudah sesuai dengan sistem transmisi secara keseluruhan. Dengan begitu, risiko memilih gearbox yang secara nominal terlihat cocok tetapi tidak sesuai secara mekanis dapat dikurangi.

Untuk aplikasi industri, pendekatan berbasis data biasanya jauh lebih aman daripada menentukan ukuran gearbox hanya berdasarkan pengalaman atau perkiraan. Manufacturer gearbox juga umumnya menyediakan selection table atau technical catalogue yang perlu digunakan bersama data aplikasi aktual.

FAQ Cara Menentukan Ukuran Gearbox

Apakah ukuran gearbox ditentukan dari kW motor?

Tidak. Daya motor memang penting, tetapi ukuran gearbox juga dipengaruhi oleh torsi output, RPM, gear ratio, karakteristik beban, service factor, operating hours, dan kondisi mekanis aplikasi.

Bagaimana cara menentukan ukuran gearbox dari torsi?

Mulai dengan menghitung kebutuhan torsi output, kemudian pertimbangkan service factor dan karakteristik beban. Hasilnya dibandingkan dengan output torque rating gearbox pada katalog manufacturer.

Apakah gearbox yang lebih besar selalu lebih baik?

Tidak. Gearbox yang terlalu besar dapat meningkatkan biaya, berat, dimensi, dan kebutuhan ruang tanpa memberikan keuntungan yang diperlukan. Yang ideal adalah memilih gearbox dengan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan aplikasi dan faktor keamanan yang tepat.

Mengapa RPM output penting dalam pemilihan gearbox?

RPM output menentukan tingkat reduksi yang dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan kebutuhan torsi. Karena itu, RPM output harus ditentukan sebelum memilih rasio dan ukuran gearbox.

Apakah service factor memengaruhi ukuran gearbox?

Ya. Service factor membantu memperhitungkan kondisi aplikasi seperti durasi operasi, karakteristik beban, starting, dan shock load. Nilainya perlu ditentukan berdasarkan kondisi aktual dan rekomendasi manufacturer.

Apakah gearbox untuk conveyor dan crusher bisa menggunakan ukuran yang sama?

Belum tentu. Walaupun daya motor atau RPM terlihat sama, karakteristik beban keduanya dapat berbeda. Crusher biasanya menghadapi beban yang lebih berat dan shock load sehingga kebutuhan kapasitas gearbox dapat berbeda dari conveyor.

Data apa yang perlu disiapkan sebelum meminta rekomendasi gearbox?

Minimal siapkan daya motor, RPM motor, RPM output yang diinginkan, kebutuhan torsi jika tersedia, jenis mesin, karakteristik beban, jam operasi, frekuensi starting, mounting arrangement, serta informasi mengenai pulley, sprocket, atau coupling yang digunakan.

Kesimpulan

Cara menentukan ukuran gearbox yang tepat harus dilakukan berdasarkan kebutuhan aplikasi secara keseluruhan. Daya motor saja tidak cukup untuk menentukan frame size gearbox. Engineer perlu mengetahui RPM input dan output, menghitung kebutuhan torsi, menentukan gear ratio, mengevaluasi karakteristik beban, serta mempertimbangkan service factor dan operating hours.

Setelah kebutuhan tersebut diketahui, langkah berikutnya adalah mencocokkannya dengan rating gearbox pada katalog manufacturer. Output torque, shaft size, radial load, axial load, mounting position, thermal capacity, dan kompatibilitas dengan motor juga harus diperiksa sebelum keputusan pembelian dibuat.

Dengan proses sizing yang benar, gearbox dapat bekerja sesuai kapasitasnya dan mendukung reliability mesin dalam jangka panjang. Sebaliknya, pemilihan yang terlalu kecil atau tidak sesuai aplikasi dapat meningkatkan risiko overheating, premature wear, dan downtime produksi.

Jika Anda sedang menentukan ukuran gearbox untuk conveyor, agitator, crusher, mixer, bucket elevator, atau aplikasi industri lainnya, Anda dapat menghubungi Inggi Sudzen melalui WhatsApp untuk mendiskusikan data motor, torsi, RPM, dan kebutuhan mesin Anda. Anda juga dapat mengunjungi halaman kontak Gearbox Electro untuk konsultasi lebih lanjut.

Hubungi kami jika ingin berkonsultasi atau ingin melakukan pemesanan:

Inggi Sudzen Syahrudin (Sales Engineer)
inggisudzen@gmail.com

Alamat: Jl. Daan Mogot 119 Blok C 12 Jakarta Pusat, DKI Jakarta 11510
Jam: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu 09:00 – 17:00
Pelayanan pelanggan+628979493965

Share ke:
Facebook
Twitter
WhatsApp